Monday, 4 January 2016

Benda Asing di Rongga Hidung (Nasal Corpus Alienum)



Pemicu
Alloanamnese:
Seorang ibu membawa puterinya S berumur 3 tahun ke Puskesmas dengan keluhan hidung berbau kira-kira 1 minggu, keluar cairan kental dari sebelah hidung (+), bersin-bersin tidak begitu sering dan kadang-kadang berdarah sedikit, batuk (-).

Dari pemeriksaan didapat :
                        Telinga            : normal
                        Hidung            : cavum nasi kanan sekret (+) mukopurulen,
                                                  Cavum nasi kiri normal
                        Tenggorokan   : normal
                        Temperatur      : 36,80C
                        Berat badan     : 15 kg

Apa yang terjadi pada S?

More info
___

Unfamiliar terms
___

Masalah
1.      Hidung berbau
2.      Keluar cairan kental dari hidung kanan
3.      Kadang hidung berdarah sedikit


Analisa masalah
Adanya riwayat penyulit terdahulu

Rhinitis atau sinusitis


 
Mukosa hidung bengkak
 

Bersin
Pembuluh darah pecah

Epistaksis


Corpus alienum
(benda asing)
Mis: manik dan kacang

1. Mekanisme pertahanan hidung
 

Bersin

2.Mengeluarkan mukus

Akibat infeksi sekunder

Mukopurulen dan berbau

3.Pembuluh darah vasodilatasi


 
Trauma
Mis: mengorek hidung

epistaksis
Adanya penyakit kongenital

Mukosa hidung/ pembuluh darah tipis


Diagnosa banding
1.      Nasal corpus alienum
2.      Sinusitis
3.      Rinoskleroma
4.      Rinitis

Learning issue
1.      Anatomi dan vaskularisasi hidung
2.      Diagnosa banding dari pemicu
3.      Mekanisme pertahanan hidung
4.      Patofisiologi dari pemicu
5.      All about nasal corpus alienum
a.       Definisi
b.      Etiologi
c.       Tanda dan gejala
d.      Penegakan diagnosa
e.       Faktor predisposisi
6.      Patogenesis dan patofisiologi nasal corpus alienum
7.      Penatalaksanaan dan edukasi nasal corpus alienum
8.      Komplikasi, prognosis dan SKDI

Pembahasan learning issue
1.    Anatomi dan vaskularisasi hidung
SISTEM PENGHIDU (HIDUNG)
HIDUNG (NASUS)
Salah satu panca indra manusia, berfungsi untuk penciuman & pernafasan
Rongga hidung (cavitas nasi) dibentuk oleh tulang serta jaringan lunak di bgn anterior



Rongga hidung dibagi menjadi 2 bagian :
       I.            HIDUNG bgn EXTERNAL
·         Bagian2 luar : radix, apex, ala nasi, nares, septum nasi
·         Rangka hidung : os nasale, maxilla proc frontalis, os frontonasal
·         Kartilago hidung : cartilago nasi lateralis, cartilago alaris major,cartilago septi nasi
1)      CAVITAS NASI
Di depan lubang hidung dinamakan nares, di belakang berhub dgn nasofaring melalui choanae
Sinus paranasal terdapat di sebelah superior dan lateral
·         2/3 inferior mukosa hidung : area respiratory
·         1/3 superior mukosa hidung : area olfaktori
Pada dinding hidung terlihat concha nasi superior, meatus nasi superior, bulla ethmoidalis, concha nasi media, meatus nasi medius, concha nasi inferior & meatus nasi inferior
·         Pada meatus nasi superior : (+)muara cellulae ethmoidales posterior & sinus sphenoidalis
·         Pada meatus nasi medius : (+)hiatus semilunaris tpt muara sinus maxilaris,cellulae ethmoidales anteriores,sinus frontalis
·         Pada meatus nasi inf : muara duktus nasolakrimalis
Cavitas nasi dibagi 2 bagian oleh septum nasi yang dibentuk oleh :
1)      pars ossea
Bgn tulang tdd : lamina perpendicularis ossis ethmoidale & os vomer
2)      pars cartilaginea
Bgn tlg rawan di sebelah anterior
Dasar cavitas nasi dibentuk oleh : palatum durum & palatum mole


VASKULARISASI HIDUNG
A. Sphenopalatina (cab. A.Maxillaris)
A. Ethmoidalis anterior (cab. A.ophthalmica)
A. Ethmoidalis posterior (cab. A.ophthalmica)
Cab. Arteri palatina major (cab. A.Maxillaris)
R.septalis A.Labialis superior (cab.A.Maxillaris)
“Tempat anastomose yg kaya akn pembuluh darah di bgn anterior septum nasi-Kieselbach area-





Plexus venosus submukosa yang terletak di mukosa nasal à bermuara pada V.sphenopalatina, V.facialis, dan V.ophthalmica
Darah vena pada bgn hidung luar bermuara pada V.Facialis


2.    Diagnosa banding dari pemicu
1.      Korpus Alineum
Benda asing di hidung adalah benda yang berasal dari luar atau dalam tubuh yang dalam keadaan normal tidak ada pada hidung.
Manifestasi Klinis :
·         Hidung tersumbat
·         Rinore unilateral dengan cairan kental dan berbau
·         Kadang-kadangterdapat rasa nyeri, demam, epistaksis, dan bersin

2.      Rinolit
Rinolit juga dianggap sebagai suatu benda asing tipe khusus yang biasanya diamati   pada orang dewasa. Garam-garam tak larut dalam sekret hidung membentuk suatu masa berkapur sebesar benda asing yang tertahan lama atau bekuan darah. Sekret sinus kronik dapat mengawali terbentuknya masa seperti itu di dalam hidung.

3.      Sinusitis
Sinusitis adalah peradangan, atau pembengkakan, dari jaringan yang melapisi sinus. Biasanya, sinus diisi dengan udara, tetapi ketika sinus tersumbat dan penuh dengan cairan, kuman (bakteri, virus, dan jamur) dapat tumbuh dan menyebabkan infeksi. Kondisi yang dapat menyebabkan penyumbatan sinus termasuk pilek, alergi rhinitis (pembengkakan selaput hidung), polip hidung (pertumbuhan kecil di lapisan hidung), atau septum menyimpang (pergeseran dalam rongga hidung).
Manifestasi Klinis :
·       Gejala Utama :
-          Nyeri wajah/tekanan
-          Hidung tersumbat
-          Batuk
-          Menurunnya penciuman
·         Gejala Tambahan
-          Demam
-          Bau mulut
-          Kelelahan
-          Sakit gigi

4.      Polip
Polip hidung adalah lesi abnormal yang berasal dari bagian manapun dari mukosa hidung atau sinus paranasal. Polip merupakan hasil akhir dari berbagai proses penyakit pada rongga hidung. Polip yang paling sering dibahas adalah lesi jinak semitransparan hidung yang timbul dari mukosa rongga hidung atau dari satu atau lebih sinus paranasal, sering pada saluran keluar sinus.
Manifestasi Klinis :
·         Mudah merasakan sakit kepala
·         Hidung tersumbat yang menetap dan selalu terasa akan adanya lendir pada sinus hidung
·         Sering mengeluarkan lender dari hidung seperti gejala influenza
·         Daya penciuman menurun
·         Rongga hidung sering terasa gatal dan sering bersin
·         Mata berair sebab alergi

5.      Neoplasma maligna
Gejala yang menyolok ialah nasal obstruction yang bersifat unilateral dan nasal bleeding. Kadang-kadang ulserasi awal dan nasal bleeding terlihat lebih dulu sebelum nasal obstruction, terutama pada tumor kavum nasi yang anaplastik. Diagnosis ditegakkan dengan biopsi yang diambil dari bagian yang tidak nekrotis. Perlu diagnosis sedini mungkin, maka bila ada kecurigaan kearah malignansi, biopsi perlu segera dilakukan.


3.    Mekanisme pertahanan hidung
a)      Rongga Hidung
Rongga hidung yang kecil, yang luasnya hanya 0,3 cm2 setiap sisinya memberi sumbangan yang besar untuk pertahanan saluran nafas. Mukosa hidung memiliki 8 kelenjar serosa per mm2 permukaan saluran nafas dibanding 1 atau kurang di trakea dan saluran nafas bagian bawah.
Rongga hidung  kaya akan anastomosis arteri dan vena,  sehingga dapat meningkatkan suhu udara inspirasi sebanyak 25ºC, antara hidung luar dengan nasopharing. Juga melindungi saluran
nafas bagian bawah dari partikel-partikel dan gas berbahaya seperti ozone,sulfur dioksida dan
formaldehyde.
Rongga hidung terdiri dari 2 struktur yang berbeda, yaitu vestibulum dan fossa nasalis.
b)      Vestibulum.
Vestibulum merupakan bagian rongga hidung paling depan yang melebar. Permukaan dalam vestibulum mengandung  kelenjar sebasea, kelenjar keringat dan vibrissae, yaitu rambut-rambut pendek dan tebal. Hal ini mengakibatkan penyaringan udara inspirasi dari partikel-partikel besar,
bahkan serangga.

c)      Fossa Nasalis
Fossa nasalis merupakan rongga hidung  bagian belakang. Fossa nasalis
terdiri dari 2 ruang cavernosa yang dipisahkan oleh tulang septum nasalis. Dinding lateral fossa nasalis ada yang menonjol ke dalam berbentuk seperti papan yang disebut concha. Ada 3 buah concha, yaitu  concha nasalis superior, media dan inferior. Concha nasalis superior diliputi  oleh epitel olfactory khusus. Concha nasalis media dan inferior diliputi oleh epitel respirasi.
Celah antara  concha mengakibatkan penambahan luas permukaan yang mengandung epitel respirasi dan menimbulkan aliran udara yang turbulen. Hal
ini menyebabkan bertambahnya kontak antara arus udara dan lapisan mukosa/epitel respirasi. Sedangkan di dalam lamina propria concha terdapat banyak plexus venosus. Hal ini mengakibatkan udara inspirasi dihangatkan oleh plexus venosus, dilembabkan oleh lapisan mukosa dan disaring oleh aliran turbulen sebelum masuk ke saluran nafas bagian bawah.
Aliran turbulen dapat menyaring udara
inspirasi, karena udara yang mengalir melalui
saluran hidung membentur banyak dinding
penghalang, yaitu  concha nasalis, septum,dan dinding pharing. Setiap kali udara membentur salah satu penghalang ini, maka udara harus merubah arah alirannya. Partikel yang tersuspensi di dalam udara, karena
mempunyai massa dan momentum jauh lebih  besar dari udara, tidak dapat mengubah arah perjalanannya secepat udara. Oleh karena itu partikel terus maju ke depan, sehingga membentur permukaan-permukaan penghalang ini. Melalui mekanisme ini, hampir tidak ada  partikel yang berdiameter lebih besar dari 2-3  mikron memasuki paru-paru melalui hidung..
Plexus venosus tampak seperti badan- badan bergelembung (corpus cavernous).Setiap 20–30 menit, corpus cavernouspada salah satu fossa nasalispenuh dengan darah, yang mengakibatkan peregangan mukosa concha, dan hal ini menyebabkan sedikit penyumbatan/penurunan aliran udara di sisi tersebut. Selama waktu ini, sebahagian besar udara berjalan melalui fossa nasalis sisi lainnya. Oklusi yang terjadi secara periodik ini mengurangi aliran udara, sehinga epitel respirasi dapat memperbaiki diri dari keausan. Reaksi-reaksi alergi dapat menyebabkan pembesaran abnormal pada korpus kavernosum pada kedua fossa nasalissampai mencapai 5 mm dan mengakibatkan gangguan aliran udara yang berat.
Manfaat pernafasan hidung begitu banyak, oleh karena itu, sangat dianjurkan bernafas melalui hidung. Hindarilah bernafas melalui mulut, karena dapat mengakibatkan  berbagai macam penyakit.

d)     Sel Epitel Saluran Nafas
Sel epitel saluran nafas/sel epitel respirasi terdiri dari beberapa jenis sel. Jenis yang terbanyak adalah sel epitel bersilia. Tiap-tiap sel ini, memiliki 250 silia pada permukaan apikalnya. Sedangkan di bawah silia, selain badan basal, terdapat banyak mitokondria. Mitokondria ini akan menyediakan adenosin trifosfat (ATP) yang diperlukan untuk
penggetaran silia. Sel selanjutnya yang paling banyak adalah sel goblet, yang menghasilkan
tetesan mukus yang kaya akan polisakarida. Sel goblet dapat berproliferasi dan berubah
menjadi sel bersilia. Sel lain adalah ‘brush cell’. Jumlah sel ini lebih 10% dari sel epitel yang ada. Sel ini memiliki banyak mikrovili yang terdapat pada permukaan apikalnya, tapi fungsinya belum diketahui. Sel basal mampu berkembang menjadi sel di atasnya.

e)      Lapisan Mukus dan Kerja Mukosilaris
Semua permukaan saluran nafas dilapisi oleh lapisan tipis mukus yang disekresikan oleh membran mukosa sel goblet. Lapisan mukus pada saluran nafas mengandung faktor-faktor yang efektif sebagai pertahanan, yaitu immunoglobulin terutama IgA, PMNs, interferon dan antibodi spesifik. Gerakan silia menyapu/saluran nafas. Silia dan mukus menjebak debu dan kuman, kemudian memindahkannya ke pharing, karena silia bergetar ke arah pharing. Partikel asing dan mukus digerakkan dengan kecepatan 1 cm/menit sepanjang permukaan trakea ke pharing
. Begitu juga benda asing di saluran hidung, dimobilisasi dengan cara yang sama ke pharing. Aktivitas silia bisa dihambat oleh berbagai zat yang berbahaya. Sebagai contoh, merokok sebatang sigaret dapat menghentikan gerakan silia untuk beberapa jam. Hal ini
mengakibatkan perokok harus membatukkan mukus yang normalnya dibersihkan oleh silia.

f.       Makrofag alveolar
Merupakan pertahanan yang paling akhir dan paling penting terhadap invasi benda asing ke dalam paru-paru. Partikel-partikel kecil yang berdiameter kurang 0,5 mikron bisa
masuk ke alveolus contoh asap rokok yang berdiameter kira-kira 0,3 mikron. Walaupun biasanya 2/3 dikeluarkan kembali bersama-sama udara ekspirasi. Tetapi sisanya akan dikeluarkan oleh makrofag alveolar.
Makrofag alveolarmerupakan sel fagositik dengan ciri-ciri khas dapat bermigrasi dan mempunyai sifat enzimatik. Sel ini bergerak bebas pada permukaan alveolus dan bisa meliputi serta menelan benda asing/ mikroba. Setelah meliputi partikel mikroba, maka enzim litik yang terdapat dalam makrofagakan membunuh dan mencernakan mikroorganisme tersebut tanpa menimbulkan reaksi peradangan yang nyata. Partikel benda asing ini pun kemudian ditranspor oleh makrofag
ke pembuluh lymfeatau ke bronkiolus, dimana mereka dibuang oleh kerja mucusdan silia.


4.    Patofisiologi dari pemicu

5.    All about nasal corpus alienum
A.    Definisi Nasal Corpus Alienum
Nasal corpus alienum adalah masuknya benda asing ke dalam rongga hidung.

B.     Etiologi Nasal Corpus Alienum
1.      Benda Hidup        : yang pernah ditemukan adalah larva lalat, lintah/pacet, dan cacing
2.      Benda Mati           : yang paling sering adalah manik-manik, baterai logam, kancing baju, dan kacang-kacangan.
C.     Faktor Predisposisi Nasal Corpus Alienum
Faktor yang mempermudah terjadinya aspirasi benda asing di hidung anatara lain:
1.      Faktor Personal (umur, jenis kelamin, kondisi social, dan lingkungan tempat tinggal)
2.      Faktor Kesadaran
3.      Faktor Kecerobohan

D.    Tanda dan Gejala Nasal Corpus Alienum
1.      Hidung tersumbat
2.      Rinore (hidung berair)
3.      Mukopurulen dan berbau
4.      Rasa nyeri
5.      Demam
6.      Kadang epistaksis
7.      Kadang bersin

E.   Pemeriksaan penunjang
USG (ultrasonography)
Dengan USG dapat melihat nasal corpus alienum yang sulit dipastikan dari pemeriksaan fisik rinoskopi anterior maupun posterior. Penegakan diagnosa dapat dilakukan tanpa pemeriksaan penunjang.






6.    Patogenesis dan patofisiologi nasal corpus alienum





7.    Penatalaksanaan dan edukasi nasal corpus alienum
PENATALAKSANAAN NASAL CORPUS  ALIENUM
Prinsip penatalaksanaan              :
1.      Perbaiki keadaan umum
2.      Cari sumber perdarahan
3.      Hentikan perdarahan
4.      Cari faktor penyebab untuk mencegah berulangnya perdarahan
Penatalaksanaan untuk anak-anak      :
a.       Pasien anak duduk dipangku, badan dan tangan dipeluk, kepala dipegangi agar tegak dan tidak bergerak-gerak
b.      Dengan rinoskopi anterior sekret diisap benda asing akan tampak
-          Benda asing pipih : jepit fengan pinset dan tarik
-          Bila benda asing bulat : masukkan alat pengait benda asing dan tepi bagian atas rongga hidung sampai melewati benda asing tersebut, kemudian alat pengait diturunkan dan ditarik keluar dan dengan demikian benda asing ikut tertarik keluar
Terapi Medik                              :
-diberikan antibiotik 5-7 hari bila ada infeksi hidung dan sinus
Amoxixilin 20-40 mg/kgBB sehari dalam dosis setiap 8 jam selama 5 hari 9untuk anak-anak)
Amoxixilin 125-500 mg (untuk dewasa), tetrasiklin, aminoglikan (gentamisin, streptomisin) dikonsumsi 5 hari
-decongestan
-anti inflamasi dan analgetik
Ibuprofen 50 mg (untuk anak-anak) saat perlu.
Kemudian 3 hari kemudian datang kembali dan dilakukan pemeriksaan balik rinoskopi anterior.

PENCEGAHAN
1.      M enjaga kebersihan
2.      Meningkatkan daya tahan tubuh agar terhindar dari infeksi
3.      Mencegah terjadinya NCA kronis

8.    Komplikasi, prognosis dan SKDI
KOMPLIKASI
1.      Perdarahan
2.      Sinusitis
3.      Otitis media akut
4.      Rinolith
5.      Infeksi sekunder ke jaringan sekitar
PROGNOSIS
Baik, jika segera ditangani untuk mencegah infeksi sekunder.

SKDI 4A















Daftar Pustaka
1.      Hermani, Bambang, dkk. 2007. Disfoni. Dalam Buku Ajar Ilmu kesehatan THT-KL. Ed.6 Jakarta : FKUI.
2.      Utama, Hendra. 2012. Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan leher. Edisi 7. FK UI
3.      ADAMS, George L,. Boise:Buku ajar penyakit THT . Ed.6. Jakarta:EGC.1997

No comments:

Post a Comment