Pemicu
Alloanamnese:
Seorang ibu membawa puterinya
S berumur 3 tahun ke Puskesmas dengan keluhan hidung berbau kira-kira 1 minggu,
keluar cairan kental dari sebelah hidung (+), bersin-bersin tidak begitu sering
dan kadang-kadang berdarah sedikit, batuk (-).
Dari pemeriksaan didapat :
Telinga :
normal
Hidung :
cavum nasi kanan sekret (+) mukopurulen,
Cavum nasi kiri normal
Tenggorokan :
normal
Temperatur :
36,80C
Berat badan :
15 kg
Apa yang terjadi pada S?
More info
___
Unfamiliar terms
___
Masalah
1. Hidung berbau
2. Keluar cairan kental dari hidung kanan
3. Kadang hidung berdarah sedikit
Analisa masalah
Mukosa hidung bengkak
Bersin
Epistaksis
|
Corpus alienum
(benda asing)
1. Mekanisme pertahanan hidung
Bersin
Mukopurulen dan berbau
3.Pembuluh darah vasodilatasi
Trauma
epistaksis
|
Mukosa hidung/ pembuluh darah tipis
|
Diagnosa banding
1. Nasal corpus alienum
2. Sinusitis
3. Rinoskleroma
4. Rinitis
Learning issue
1. Anatomi dan vaskularisasi hidung
2. Diagnosa banding dari pemicu
3. Mekanisme pertahanan hidung
4. Patofisiologi dari pemicu
5. All about nasal corpus alienum
a. Definisi
b. Etiologi
c. Tanda dan gejala
d. Penegakan diagnosa
e. Faktor predisposisi
6. Patogenesis dan patofisiologi nasal corpus alienum
7. Penatalaksanaan dan edukasi nasal corpus alienum
8. Komplikasi, prognosis dan SKDI
Pembahasan learning issue
1.
Anatomi dan vaskularisasi hidung
SISTEM
PENGHIDU (HIDUNG)
HIDUNG
(NASUS)
Salah satu panca indra manusia,
berfungsi untuk penciuman & pernafasan
Rongga hidung (cavitas nasi)
dibentuk oleh tulang serta jaringan lunak di bgn anterior

Rongga hidung dibagi menjadi 2 bagian :
I.
HIDUNG bgn EXTERNAL
·
Bagian2 luar : radix, apex,
ala nasi, nares, septum nasi
·
Rangka hidung : os nasale,
maxilla proc frontalis, os frontonasal
·
Kartilago hidung : cartilago
nasi lateralis, cartilago alaris major,cartilago septi nasi
1) CAVITAS NASI
Di depan lubang hidung
dinamakan nares, di belakang berhub dgn nasofaring melalui choanae

Sinus paranasal terdapat di sebelah superior dan
lateral
·
2/3
inferior mukosa hidung : area respiratory
·
1/3
superior mukosa hidung : area olfaktori
Pada
dinding hidung terlihat concha nasi superior, meatus nasi superior, bulla
ethmoidalis, concha nasi media, meatus nasi medius, concha nasi inferior &
meatus nasi inferior
·
Pada meatus nasi superior :
(+)muara cellulae ethmoidales posterior & sinus sphenoidalis
·
Pada meatus nasi medius :
(+)hiatus semilunaris tpt muara sinus maxilaris,cellulae ethmoidales
anteriores,sinus frontalis
·
Pada meatus nasi inf : muara
duktus nasolakrimalis
Cavitas
nasi dibagi 2 bagian oleh septum nasi yang dibentuk oleh :
1) pars ossea
Bgn tulang tdd : lamina perpendicularis ossis ethmoidale & os vomer
2) pars cartilaginea
Bgn tlg rawan di sebelah anterior
Dasar
cavitas nasi dibentuk oleh : palatum durum & palatum mole
VASKULARISASI HIDUNG
A. Sphenopalatina (cab. A.Maxillaris)
A. Ethmoidalis anterior (cab. A.ophthalmica)
A. Ethmoidalis posterior (cab. A.ophthalmica)
Cab. Arteri palatina major (cab. A.Maxillaris)
R.septalis A.Labialis superior (cab.A.Maxillaris)
“Tempat anastomose yg kaya akn pembuluh darah di bgn
anterior septum nasi-Kieselbach area-

Plexus
venosus submukosa yang terletak di mukosa nasal à bermuara pada
V.sphenopalatina, V.facialis, dan V.ophthalmica
Darah
vena pada bgn hidung luar bermuara pada V.Facialis
2.
Diagnosa banding dari pemicu
1. Korpus
Alineum
Benda
asing di hidung adalah benda yang berasal dari luar atau dalam tubuh yang dalam
keadaan normal tidak ada pada hidung.
Manifestasi
Klinis :
·
Hidung tersumbat
·
Rinore unilateral dengan cairan
kental dan berbau
·
Kadang-kadangterdapat rasa nyeri,
demam, epistaksis, dan bersin
2. Rinolit
Rinolit juga dianggap sebagai suatu
benda asing tipe khusus yang biasanya diamati
pada orang dewasa. Garam-garam tak larut dalam sekret hidung membentuk
suatu masa berkapur sebesar benda asing yang tertahan lama atau bekuan darah.
Sekret sinus kronik dapat mengawali terbentuknya masa seperti itu di dalam
hidung.
3. Sinusitis
Sinusitis adalah peradangan, atau
pembengkakan, dari jaringan yang melapisi sinus. Biasanya, sinus diisi dengan udara,
tetapi ketika sinus tersumbat dan penuh dengan cairan, kuman (bakteri, virus,
dan jamur) dapat tumbuh dan menyebabkan infeksi. Kondisi yang dapat menyebabkan
penyumbatan sinus termasuk pilek, alergi rhinitis (pembengkakan selaput
hidung), polip hidung (pertumbuhan kecil di lapisan hidung), atau septum
menyimpang (pergeseran dalam rongga hidung).
Manifestasi Klinis :
· Gejala Utama :
-
Nyeri wajah/tekanan
-
Hidung tersumbat
-
Batuk
-
Menurunnya penciuman
·
Gejala Tambahan
-
Demam
-
Bau mulut
-
Kelelahan
-
Sakit gigi
4. Polip
Polip hidung adalah lesi abnormal yang berasal dari bagian manapun
dari mukosa hidung atau sinus paranasal. Polip merupakan hasil akhir dari
berbagai proses penyakit pada rongga hidung. Polip yang paling sering dibahas
adalah lesi jinak semitransparan hidung yang timbul dari mukosa rongga hidung
atau dari satu atau lebih sinus paranasal, sering pada saluran keluar sinus.
Manifestasi Klinis :
·
Mudah merasakan
sakit kepala
·
Hidung tersumbat
yang menetap dan selalu terasa akan adanya lendir pada sinus hidung
·
Sering
mengeluarkan lender dari hidung seperti gejala influenza
·
Daya penciuman
menurun
·
Rongga hidung
sering terasa gatal dan sering bersin
·
Mata berair sebab
alergi
5.
Neoplasma
maligna
Gejala
yang menyolok ialah nasal obstruction yang
bersifat unilateral dan nasal bleeding.
Kadang-kadang ulserasi awal dan nasal
bleeding terlihat lebih dulu sebelum nasal obstruction, terutama pada tumor kavum nasi yang
anaplastik. Diagnosis ditegakkan dengan biopsi yang diambil dari bagian yang
tidak nekrotis. Perlu diagnosis sedini mungkin, maka bila ada kecurigaan kearah
malignansi, biopsi perlu segera dilakukan.
3.
Mekanisme pertahanan hidung
a) Rongga Hidung
Rongga hidung yang kecil, yang luasnya hanya 0,3 cm2 setiap sisinya memberi sumbangan
yang besar untuk pertahanan saluran nafas. Mukosa hidung memiliki 8 kelenjar
serosa per mm2 permukaan saluran nafas
dibanding 1 atau kurang di trakea dan saluran nafas bagian bawah.
Rongga hidung kaya
akan anastomosis arteri dan vena, sehingga
dapat meningkatkan suhu udara inspirasi sebanyak 25ºC, antara hidung luar
dengan nasopharing. Juga melindungi saluran
nafas bagian bawah dari partikel-partikel dan gas berbahaya seperti ozone,sulfur dioksida dan
formaldehyde.
Rongga hidung terdiri dari 2 struktur yang berbeda,
yaitu vestibulum dan fossa nasalis.
b) Vestibulum.
Vestibulum merupakan bagian rongga hidung paling depan
yang melebar. Permukaan dalam vestibulum mengandung kelenjar sebasea, kelenjar keringat dan
vibrissae, yaitu rambut-rambut pendek dan tebal. Hal ini mengakibatkan
penyaringan udara inspirasi dari partikel-partikel besar,
bahkan serangga.
c) Fossa Nasalis
Fossa nasalis merupakan rongga hidung bagian belakang. Fossa nasalis
terdiri dari 2 ruang cavernosa yang dipisahkan oleh tulang septum nasalis.
Dinding lateral fossa nasalis ada yang menonjol ke dalam berbentuk seperti
papan yang disebut concha. Ada 3 buah concha, yaitu concha nasalis superior, media dan inferior.
Concha nasalis superior diliputi oleh
epitel olfactory khusus. Concha nasalis media dan inferior diliputi oleh epitel
respirasi.
Celah antara
concha mengakibatkan penambahan luas permukaan yang mengandung epitel
respirasi dan menimbulkan aliran udara yang turbulen. Hal
ini menyebabkan bertambahnya kontak antara arus udara dan lapisan
mukosa/epitel respirasi. Sedangkan di dalam lamina propria concha terdapat
banyak plexus venosus. Hal ini mengakibatkan udara inspirasi dihangatkan oleh
plexus venosus, dilembabkan oleh lapisan mukosa dan disaring oleh aliran
turbulen sebelum masuk ke saluran nafas bagian bawah.
Aliran turbulen dapat menyaring udara
inspirasi, karena udara yang mengalir melalui
saluran hidung membentur banyak dinding
penghalang, yaitu concha nasalis,
septum,dan dinding pharing. Setiap kali udara membentur salah satu penghalang
ini, maka udara harus merubah arah alirannya. Partikel yang tersuspensi di
dalam udara, karena
mempunyai massa dan momentum jauh lebih
besar dari udara, tidak dapat mengubah arah perjalanannya secepat udara.
Oleh karena itu partikel terus maju ke depan, sehingga membentur
permukaan-permukaan penghalang ini. Melalui mekanisme ini, hampir tidak
ada partikel yang berdiameter lebih
besar dari 2-3 mikron memasuki paru-paru
melalui hidung..
Plexus venosus tampak seperti badan- badan bergelembung
(corpus cavernous).Setiap 20–30 menit, corpus cavernouspada salah satu fossa
nasalispenuh dengan darah, yang mengakibatkan peregangan mukosa concha, dan hal
ini menyebabkan sedikit penyumbatan/penurunan aliran udara di sisi tersebut.
Selama waktu ini, sebahagian besar udara berjalan melalui fossa nasalis sisi
lainnya. Oklusi yang terjadi secara periodik ini mengurangi aliran udara,
sehinga epitel respirasi dapat memperbaiki diri dari keausan. Reaksi-reaksi
alergi dapat menyebabkan pembesaran abnormal pada korpus kavernosum pada kedua
fossa nasalissampai mencapai 5 mm dan mengakibatkan gangguan aliran udara yang
berat.
Manfaat pernafasan hidung begitu banyak, oleh karena
itu, sangat dianjurkan bernafas melalui hidung. Hindarilah bernafas melalui
mulut, karena dapat mengakibatkan
berbagai macam penyakit.
d) Sel Epitel Saluran Nafas
Sel epitel saluran nafas/sel epitel respirasi terdiri
dari beberapa jenis sel. Jenis yang terbanyak adalah sel epitel bersilia.
Tiap-tiap sel ini, memiliki 250 silia pada permukaan apikalnya. Sedangkan di
bawah silia, selain badan basal, terdapat banyak mitokondria. Mitokondria ini
akan menyediakan adenosin trifosfat (ATP) yang diperlukan untuk
penggetaran silia. Sel selanjutnya yang paling banyak adalah sel goblet,
yang menghasilkan
tetesan mukus yang kaya akan polisakarida. Sel goblet dapat berproliferasi
dan berubah
menjadi sel bersilia. Sel lain adalah ‘brush cell’. Jumlah sel ini lebih
10% dari sel epitel yang ada. Sel ini memiliki banyak mikrovili yang terdapat
pada permukaan apikalnya, tapi fungsinya belum diketahui. Sel basal mampu
berkembang menjadi sel di atasnya.
e) Lapisan Mukus dan Kerja
Mukosilaris
Semua permukaan saluran nafas dilapisi oleh lapisan
tipis mukus yang disekresikan oleh membran mukosa sel goblet. Lapisan mukus
pada saluran nafas mengandung faktor-faktor yang efektif sebagai pertahanan,
yaitu immunoglobulin terutama IgA, PMNs, interferon dan antibodi spesifik.
Gerakan silia menyapu/saluran nafas. Silia dan mukus menjebak debu dan kuman,
kemudian memindahkannya ke pharing, karena silia bergetar ke arah pharing.
Partikel asing dan mukus digerakkan dengan kecepatan 1 cm/menit sepanjang
permukaan trakea ke pharing
. Begitu juga benda asing di saluran hidung, dimobilisasi dengan cara
yang sama ke pharing. Aktivitas silia bisa dihambat oleh berbagai zat yang
berbahaya. Sebagai contoh, merokok sebatang sigaret dapat menghentikan gerakan
silia untuk beberapa jam. Hal ini
mengakibatkan perokok harus membatukkan mukus yang normalnya dibersihkan
oleh silia.
f. Makrofag alveolar
Merupakan pertahanan yang paling akhir dan paling
penting terhadap invasi benda asing ke dalam paru-paru. Partikel-partikel kecil
yang berdiameter kurang 0,5 mikron bisa
masuk ke alveolus contoh asap rokok yang berdiameter kira-kira 0,3
mikron. Walaupun biasanya 2/3 dikeluarkan kembali bersama-sama udara ekspirasi.
Tetapi sisanya akan dikeluarkan oleh makrofag alveolar.
Makrofag alveolarmerupakan sel fagositik dengan ciri-ciri khas dapat
bermigrasi dan mempunyai sifat enzimatik. Sel ini bergerak bebas pada permukaan
alveolus dan bisa meliputi serta menelan benda asing/ mikroba. Setelah meliputi
partikel mikroba, maka enzim litik yang terdapat dalam makrofagakan membunuh dan mencernakan
mikroorganisme tersebut tanpa menimbulkan reaksi peradangan yang nyata. Partikel
benda asing ini pun kemudian ditranspor oleh makrofag
ke pembuluh lymfeatau
ke bronkiolus, dimana mereka dibuang oleh
kerja mucusdan silia.
4.
Patofisiologi dari pemicu


5.
All about nasal corpus alienum
A.
Definisi Nasal Corpus Alienum
Nasal
corpus alienum adalah masuknya benda asing ke dalam rongga hidung.
B.
Etiologi Nasal Corpus Alienum
1.
Benda Hidup : yang pernah ditemukan adalah larva lalat, lintah/pacet, dan
cacing
2.
Benda Mati : yang paling sering adalah manik-manik, baterai logam,
kancing baju, dan kacang-kacangan.
C.
Faktor Predisposisi Nasal Corpus
Alienum
Faktor yang mempermudah terjadinya aspirasi benda asing di
hidung anatara lain:
1.
Faktor Personal (umur, jenis
kelamin, kondisi social, dan lingkungan tempat tinggal)
2.
Faktor Kesadaran
3.
Faktor Kecerobohan
D.
Tanda dan Gejala Nasal Corpus
Alienum
1.
Hidung tersumbat
2.
Rinore (hidung berair)
3.
Mukopurulen dan berbau
4.
Rasa nyeri
5.
Demam
6.
Kadang epistaksis
7.
Kadang bersin
E. Pemeriksaan penunjang
USG
(ultrasonography)
Dengan USG dapat
melihat nasal corpus alienum yang sulit dipastikan dari pemeriksaan fisik
rinoskopi anterior maupun posterior. Penegakan diagnosa dapat dilakukan tanpa
pemeriksaan penunjang.
6.
Patogenesis dan patofisiologi nasal corpus alienum


7.
Penatalaksanaan dan edukasi nasal corpus alienum
PENATALAKSANAAN NASAL
CORPUS ALIENUM
Prinsip penatalaksanaan :
1. Perbaiki keadaan umum
2. Cari sumber perdarahan
3. Hentikan perdarahan
4. Cari faktor penyebab untuk
mencegah berulangnya perdarahan
Penatalaksanaan untuk anak-anak :
a. Pasien anak duduk dipangku,
badan dan tangan dipeluk, kepala dipegangi agar tegak dan tidak bergerak-gerak
b. Dengan rinoskopi anterior
sekret diisap benda asing akan tampak
-
Benda asing pipih : jepit fengan pinset dan tarik
-
Bila benda asing bulat : masukkan alat pengait benda asing
dan tepi bagian atas rongga hidung sampai melewati benda asing tersebut,
kemudian alat pengait diturunkan dan ditarik keluar dan dengan demikian benda
asing ikut tertarik keluar
Terapi Medik :
-diberikan antibiotik 5-7 hari bila
ada infeksi hidung dan sinus
Amoxixilin 20-40 mg/kgBB sehari dalam
dosis setiap 8 jam selama 5 hari 9untuk anak-anak)
Amoxixilin 125-500 mg (untuk dewasa),
tetrasiklin, aminoglikan (gentamisin, streptomisin) dikonsumsi 5 hari
-decongestan
-anti inflamasi dan analgetik
Ibuprofen 50 mg (untuk anak-anak)
saat perlu.
Kemudian 3 hari kemudian datang
kembali dan dilakukan pemeriksaan balik rinoskopi anterior.
PENCEGAHAN
1. M enjaga kebersihan
2. Meningkatkan daya tahan tubuh agar terhindar dari
infeksi
3. Mencegah terjadinya NCA kronis
8.
Komplikasi, prognosis dan SKDI
KOMPLIKASI
1. Perdarahan
2. Sinusitis
3. Otitis media akut
4. Rinolith
5. Infeksi sekunder ke jaringan sekitar
PROGNOSIS
Baik, jika segera
ditangani untuk mencegah infeksi sekunder.
SKDI 4A
Daftar Pustaka
1.
Hermani, Bambang, dkk. 2007. Disfoni.
Dalam Buku Ajar Ilmu kesehatan THT-KL. Ed.6 Jakarta : FKUI.
2.
Utama,
Hendra. 2012. Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan leher. Edisi 7. FK UI
3.
ADAMS,
George L,. Boise:Buku ajar penyakit THT . Ed.6. Jakarta:EGC.1997

No comments:
Post a Comment